Balasan

Setiap kebaikan setidaknya mendatangkan manfaat bagi kita :
1. Menyebabkan munculnya pancaran cahaya dari dalam tubuh
2. Melahirkan dan memancarkan cahaya dari dalam hati
3. Diberikan kekuatan didalam fisik
4. Dilapangkan rezekinya oleh Allah
5. Dicintai oleh banyak orang
Orang yang senag bermaksiat :
1. Wajahnya akan menjadi hitam
2. Hatinya akan menjadi gelap
3. Fisiknya menjadi lemah
4. Sempit rezekinya
5. Akan di benci oleh banyak orang








Peran pemudi dalam kebangkitan islam :


“ Ada tujuh golongan yang akan mendapat naungan pada hari dimana tidak ada lagi naungan kecuali naungan allah salah satunya adalah ‘ syababun-nasya’a fi ibadillah’ yaitu oemuda tumbuh besar dalam naungan hidupnya dengan ibadah kepada allah. Mengapa harus pemuda?

- Pemuda adalah jiwa yang brilian

- Berfikir kritis,logis dan ilmiyah

- Punya daya inisiatif,cekatan dan inovatif Realitas pemuda islam :

- Hilang eksistensinya menjadi aktivis islam

- Jauhnya mereka dari al-qur’an Ikut-ikutan dengan umat diluar islam dari segi :

- Cara berfikir/ideologi

- Aqidah/keyakinan

- Pergaulan dan tingkah laku - misi mulia yang langsung allah berikan untuk kita

- misinya para nabu dan rasul “ BERDAKWAH”
Apa bekal kita dalam perjuangan ini?

- Iman yag kuat ( QS. Al-Hujurat : 15)

- Keikhlasan yang sungguh-sungguh (QS. AL-Bayyinah :5)

- Ilmu syar’i

- Tekad kuat tanpa rasa takut (QS. At-Taubah: 105)

- Usaha yang berkesinambungan

- Pengorbanan
Dengan konsep :

- Antara dunia dan akhirat

- Kuliah dan dakwah

- Kampus dan mesjid

- Keluarga dan masyarakat.

. . . . .

“ kami pernah bersama rasulullah shallallahu alaihi wa sallam di atu jenazah beliau waktu itu mulai memukul tanah dengan tongkat dan berkata Rasulullah tiada salah seorang diantara kalian melainkan telah selesai oenentuannya di syurga atau di neraka. Mereka berkata : apa kita tidak pasrah saja? Rasulullah berkata Beramallah kalian karena setiap kalian telah di mudahkan”.

Ada beberapa takdir yang bisa dirubah :

1. Rezeki , amal dan silaturahmi : dapat memanjangkan umur, memperbanyak rezeki dan lain-lain.

2. Tiada yang dapat menolak takdir kecuali dengan berdo’a. Lima puluh ribu tahun sebelum kita diciptakan , allah telah menmpatkan tempat kita di syurga atau di neraka. Lalu mereka (para sahabat) bertanya: wahai Rasulullah maka untuk apa lagi kita beramal? Rasulullah menjawab Beramallah kalian karena setiap orang dari kalian telah dimudahkan sesuai dengan apa yang ditetapkannya.

3. Allah sudah mengetahui apa yang terjadi dan yang akan terjadi

4. Semua yang telah terjadi dan akan terjadi telah tertulis dalam qalam allah.

Dunia

Diriku terdiam sejenak sambil mengamati orang-orang yang berjalan lalu lalang di hadapanku. Hatiku terenyuh ketika melihat mereka yang begitu asyik bergelut dalam kemaksiatan-kemaksiatan yang begitu mereka anggap remeh. Mengapa orang-orang begitu takut untuk meninggalkan dunia ini? Padahal kita sudah ketahui bersama bahwa nantinya dunia ini akan binasa. Aku juga berfikir mengapa mereka begitu terlenanya dengan urusan dunia? Tidakkah terlintas di fikiran mereka bahwa dimana mereka akan di kembalikan? Tidakkah mereka berfikir bahwa suatu saat mereka semua akan dimintai pertanggung jawaban atas apa-apa yang telah mereka perbuat di dunia ini? Ataukah sebenarnya mereka takut meninggalkan dunia karena mereka sudah tahu bahwa adzab telah menunggunya di akhirat. Saat ini Ribuan pertanyaan kini bergelantungan di kepalaku. Memikirkan nasib mereka yang begitu cintanya dengan dunia dan sangat takut untuk mati. Akankah kita yang melihatnya hanya terdiam dan membiarkan mereka hanyut dalam arus dunia yang fana ini? Tentu tidak bukan? Harus ada upaya yang harus kita lakukan untuk menyadarkan mereka yang tengah terlelap dalam gemerlap dunia. Dengan cara apakah itu? Dengan cara mendakwahi mereka, mentarbiyah mereka, mengajak mereka , menasihati mereka serta mendoakan mereka. Bagaimana jika mereka menolak untuk di tarbiyah? Tentunya segala sesuatunya akan membutuhkan proses. Dan dalam sebuah proses menuju kebaikan tentunya hal yang paling utama yang harus kita miliki adalah kesabaran. Sebagaimana apa yang telah allah firmankan dalam kitabnya : “Dan kami jadikan di antara mereka itu pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah kami selama mereka sabar. Mereka mayakini ayat-ayat kami. (Qs. As-sajdah (32): 24.). * menurut ahli tafsir kata “sabar” dalam ayat ini yakni sabar dalam menegakkan kebenaran. Selain sabar kita juga membutuhkan yang namanya kekuatan iman (Qs. Al-anfal :45) serta komitmen yang kuat dengan nilai islam ( QS 24:55).

Muslimah Intelektual

Apa yang kalian bayangkan ketika mendengar kata intelektual? Yah yang pastinya disetiap pemikiran kita akan melahirkan makna yang berbeda-beda. Begitupun dengan apa yang saya fikirkan. Intelektual menurut saya adalah sebuah pemikiran dimana seseorang itu dapat menghasilkan pemikiran yang cerdas. Pemikiran itu sendiri memiliki tiga kategori yaitu : pemikiran dangkal, pemikiran mendalam dan pemikiran cemerlang. Dari sini kita dapat mengambil kesimpulan bahwa seseorang yang intelektual adalah seseorang yang memiliki kemampuan untuk berfikir cemerlang. Contohnya : seorang yang memiliki pemikiran dangkal, ketika ada seseorang yang memberikannya apel maka dia langsung berfikir bahwa apel tersebut adalah sesuatu yang dimakan. Sedangkan orang yang berfikir mandalam adalah ketika seseorang memberikannya apel maka dia akan berfikir bahwa apel tersebut adalah sesuatu yang mengandung vitamin dan serat-serat yang dapat melancarkan pencernaan. Dimanakah peran pemikiran cemerlang? Naahh. Seseorang yang memiliki pemikiran yang cemerlang ketika seseorang memberinya apel dia akan berfikir bahwa apel tersebut adalah makanan yang sehat, yang didalamnya terkandung vitamin dan serat-serat yang dapat melancarkan pencernaan serta akan muncul pemikiran bahwa mengapa buah apel yang ditanam ditanah yang sama dengan jenis buah lainnya bisa memiliki bentuk,warna dan rasa yang berbeda? Ia akan mencari tahu mengapa terjadi perbedaan? Pasti ada yang mengaturnya. Disinilah pemikiran cemerlang itu bekerja. ia akan mengaitkan segala sesuatunya dengan sang penciptanya. Sekarang kita akan membahas muslimah intelektual dalam pandangan islam. Bagaimanakah islam menempatkan muslimah intelektual? Ingatkah kalian sosok pelopor emansipasi wanita? dialah RA kartini. Apakah emansipasi wanita yang dimaksud oleh Ibu kartini adalah adanya kesetaraan kedudukan antara pria dan wanita? Ternyata tidak. Saat itu ibu kartini hanyalah seseorang yang berusaha untuk mewujudkan cita-citanya bahwa perempuan-perempuan pada saat itu juga harus bersekolah dan layak mendapatkan pendidikan yang sama dengan laki-laki. Islam adalah agama yang sangat menjunjung tinggi kehormatan wanita. Islam telah menetapkan sebuah syariat yang agung untuk melindungi wanita. Lantas dimana peran wanita yang sebenarnya? Bukankah sosok Ibu adalah seorang wanita? Seorang ibu yang memiliki pemiikiran intelektual dapat mendidik anak-anaknya dengan sangat baik. Bagaimana dengan seseorang yang belum memiliki status menjadi seorang ibu (pemudi)? sebagai pemudi kita juga dapat mengambil peranan untuk menoreh sejarah dengan prestasi dan terus berkarya. Selama wanita tidak mengambil peran pria dalam tatanan syari’at maka tidak ada larangan untuk wanita muslimah untuk berkarya. Wanita juga bisa jadi pemimpin, tapi pemimpin bagi kaumnya sendiri. Wanita muslimah yang memiliki pemikiran intelektual akan berfikir dulu sebelem bertindak. Dia akan selalu mengaitkan segala sesuatu kepada sang penciptanya. Dengan itulah dia akan selalu berada pada koridor yang benar. Siapakah sosok wanita muslimah yang memiliki pemikiran inteletual yang dapat kita contohi? Tentunya sangat banyak. Tidak ingatkah kalian dengah sahabiah Khadijah RA, fatimah RA dan aisyah RA? Mereka adalah sebaik-baik teladan yang bisa kita ambil contohnya. Aisyah di usia mudanya dia telah menghapal ribuan hadist rasulullah shalallahu alaihi wa salam. Dan masih banyak contoh lainnya lagi. 

Suara Hati

Terkadang aku lebih bisa mengendalikan tali tambang yang ditarik oleh lima orang sekaligus dari dibandingkan dengan menahan diriku sendiri dalam tarikan magnet lingkungan yang begitu kuat dan besar. Jiwaku bediri tegak sambil berteriak-teriak melawan arus yang deras ini. Tapi entahlah, mungkin kakiku begitu rapuh untuk bisa menahan derasnya arus pergaulan di sekitarku. Terkadang hatiku bertengkar sepanjang waktu hanya untuk menginginkan jiwaku dapat menang dalam memerangi nafsu buruk yang bersemayam dalam hatiku ini. Kurasakan betapa amat berat ujian keimanan yang sudah tertanam dalam sanubari. Ya allah,, kuatkanlah pijakan kakiku, kokohkanlah jiwaku, tetapkanlah hati ini hanya padamu. Sesungguhnya tiada satu penolong pun yang dapat menolongku dari kehinaan dunia ini kecuali engkau ya allah. Aku mohon! Bentangkanlah kebaikanmu keseluruh penjuru dunia ini, agar aku tak takut lagi jika aku harus hanyut dalam lautan orang-orang di dunia karena kebaikanmu telah menyebar. Aku pun tak akan tinggal diam, aku juga akan berusaha mewujudkan hal itu. Aku akan berusaha belajar ilmu syar’i dan mengamalkannya, setelah itu ku akan ber azzam untuk mendakwahi orang-orang disekitarku, agar mereka juga mengerti apa tujuan kita sebenarnya di ciptakan. 

koma atau titik

Aku hanya bisa berdiri terpaku didepan subuah ranjang besar yang beralaskan sprei putih.sambil mamandangi sosok anak kecil yang sedang tertidur begitu pulas diatasnya. Yaahhh,, aku benar-benar berfikir bahwa dia tertidur dengan sangat pulas. Suara hiruk pikuk dan hilir mudik pengunjung tak kuhiraukan lagi. Badanku serasa lemas dan remuk tatkala memandangi tubuh sosok mungil ini, rambutnya sudah mulai menipis dan nyaris botak akibat kemoterapi yang di jalaninya. Ia masih begitu kecil namun ia sudah merasakan betapa kerasnya perjuangan hidup untuk melewati hari dengan bayang-bayang maut yang terus mengintainya setiap saat. Aku rasa perjumpaan kita sangat singkat. Aku baru saja mengenalnya satu pekan yang lalu. Saat itu ia masih sempat membalas senyumku dan menjawab sedikit pertanyaanku. Kini Tak ada lagi senyum yang tersungging dari bibirnya dan tak ada lagi suara manja yang keluar dari mulutnya. Ia sedang dalam keadaan yang kritis, ia sedang dalam keadaan berjuang melawan penyakitnya dan ia sedang dalam keadaan memilih. Memilih apakah dia harus berhenti pada sebuah Koma ataukah pada sebuah Titik.